Yasa Peksi Burak, Tradisi Peringatan Isra Mi’raj Keraton Yogyakarta

  • Bagikan
Yasa Peksi Burak di Kraton Yogyakarta./foto: instagram kratonjogja
Yasa Peksi Burak di Kraton Yogyakarta./foto: instagram kratonjogja

YOGYAKARTA – Nabi Muhammad SAW mengalami Isra Mi’raj untuk mendapatkan perintah sholat lima waktu. Menghormati perjalanan besar itu, di Keraton Yogyakarta menggelar tradisi yasa peksi burak setiap tanggal 26 Rajab penanggalan Jawa.

Upacara ini dilakukan di Bangsal Sekar Kedaton atau di Bangsal Pangapit oleh
putri dan kerabat keraton. Upacara dipimpin permaisuri atau putri sulung Sultan dibantu abdi dalem yang tengah bertugas.

Dalam bahasa Jawa, peksi berarti burung. Sedang burak adalah buraq, makhluk yang membawa nabi saat melakukan Isra’ Mi’raj.

Tradisi diawali dengan membuat pohon buah dan empat pohon bunga pada pagi hingga menjelang sholat dzuhur. Peksi burak dibuat dari kulit buah jeruk bali yang diukir hingga menyerupai burung, lengkap dengan sayap dan pial bagi burung jantan.

Sepasang burung ini diletakkan paling atas pohon buah, dalam sarang yang berbuat dari daun kemuning. Pohon buah itu dibuat dengan menyusun tujuh macam buah lokal yang disangga dengan rangakaian ruas bambu. Dalam bahasa Jawa tujuh disebut dengan pitu atau pitulungan yang berarti memohon pertolongan, keselamatan, dan kesejahteraan.

Empat pohon bunga yang menyertai pohon buah tadi dibuat dari rangkaian dedaunan dan aneka bunga dalam kerangka bambu. Pohon buah dan empat pohon bunga ini melambangkan sepasang burung di taman surga.

Pembuatan peksi Burak , miniatur pohon buah-buahan, merangkai bunga melati, dan kantil ini hanya boleh dilakukan kerabat dekat sultan, yakni isteri pangeran, wayah dalem/cucu, dan sentana dalem/kerabat. Sedang pembuatan pohon bunga dilakukan andi dalem wanita.

Mesjid Gedhe

Usai sholat ashar, dilakukan doa bersama. Selanjutnya, peksi burak diarak menuju Mesjid Gedhe dengan melalui pelataran keraton, keluar melalui Regol Kamandungan Lor, melewati Jalan Rotowijayan.

BACA JUGA :  Helena Sky Bridge, Menyeberangi Langit Bersama Kupu-Kupu

Sampai di mesjid yang berada di sisi barat Alun-Alun utara Keraton Yogyakarta itu abdi dalem menyerahkan peksi burak. Doa memohon keselamatan dan kesehatan bagi Sultan dan keluarganya, kelestarian Keraton Yogyakarta, serta kesejahteraan rakyat dipanjatkan.

Puncak peringatan Isra Mi’raj dilakukan di Mesjid Gedhe selepas sholat Isya dengan dihadiri kyai, abdi dalem serta masyarakat, baik laki-kali, perempuan maupun anak-anak.

Duduk melingkari peksi burak, kyai akan menyampaikan kisah perjalanan Nabi Muhammad saat Isra Mi’raj. Termasuk dialog dengan malaikat Jibril hingga lahir perintah sholat lima waktu.
Selanjutnya, abdi dalem akan membagikan buah-buahan itu kepada hadirin di mesjid tersebut.

Serangkaian tradisi ini menggambarkan dakwah dari kalangan keraton agar masyarakat, khususnya kaum muslim, bisa mengambil hikmah dari kisah Isra Mi’raj. ***

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *