Tenun Sabu Tak Lekang Oleh Waktu

  • Bagikan
Motif Tenun Sabu / Foto : id.pinterest.com
Motif Tenun Sabu / Foto : id.pinterest.com

Masih  ingat, pada Sidang Tahunan MPR 2020 Agustus lalu,  masyarakat dibuat terkagum-kagum dengan pakaian adat yang dikenakan  Presiden Joko Widodo, tampak mewah dan elegan. Saat itu Presiden mengenakan  pakaian dibalut kain, selempang dan ikat pinggang juga ikat kepala bernuansa hitam keemasan dengan motif yang cantik sekali. Baju adat yang dikenakan orang nomor satu di Indonesia  ini adalah baju adat  Sabu dari Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Presiden Jokowi mengenakan pakaian adat Sabu, NTT / Foto : Setneg.go.id
Presiden Jokowi mengenakan pakaian adat Sabu, NTT / Foto : Setneg.go.id

Berdasarkan informasi yang  dihimpun Kabartravel.id, Pulau Sabu berada di pesisir Samudra Indonesia, untuk mencapai ke pulau tersebut dibutuhkan waktu 50 menit dengan menggunakan pesawat terbang dari dari Ibukota Kupang, NTT  atau 4 jam dengan menggunakan kapal ferry cepat. Tenun khas Sabu mulai banyak dilirik orang karena keindahan motifnya. Kain ini dibuat oleh ibu-ibu dan gadis-gadis warga Sabu saat membunuh waktu. Hasil tenunan yang mereka buat dipakai untuk acara adat. Warga diwajibkan memakai atau sarung,  higi huri atau selimut  dan naleda atau selendang untuk melakukan prosesi adat.

Material yang digunakan dalam pembuatan kain ini adalah  benang dari kapas yang direntangkan pada langa agar mudah diikat.  Benang-benaang tersebut diikat dengan membuat pola  sesuai motif yang telah dibuat.

Motif Tenun Sabu / Foto : id.pinterest.com
Motif Tenun Sabu / Foto : id.pinterest.com

Kerajinan ini semakin digemari karena menggunakan bahan-bahan alami dari akar-akaran dan dedaunan. Warna yang biasa ada dalam motif tenun warna Astronesia, seperti warna kuning dari kunyit, hitam atau biru dari racikan nila dan  merah dari akar mengkudu. Setidaknya ada 8 motif seperti flora, fauna dan  geometris. Ada juga perpaduan dari ketiga motif tersebut dengan sentuhan warna yang serasi. Tenun ikat asal Sabu ini  memiliki ciri khas, motif dan ragam hiasnya sangat bervariasi.

BACA JUGA :  Gerak Cepat TCC Kemenpar Atas Dampak Tsunami Selat Sunda

 

Motif Tenun Sabu / Foto : id.pinterest.com
Motif Tenun Sabu / Foto : id.pinterest.com

Untuk Semakin memperkenalkan kerajinan ini  dan menghormati adat  Sabu, wisatawan diminta untuk mengenakan ei atau sarung. Cara mengenakannya, kain diikat dipinggang, salah satu sisinya dilipat ke depan dengan memperlihatkan motif ikatannya. Sedangkan untuk malam hari, ditambahkan dengan naleda atau selendang yang kedua ujungnya  menggantung ke depan.

Harga yang dibandrol untuk kain tenun ini beragam tergantung tingkat kesulitan pembuatan, ukuran kain dan nilai historisnya. Harga untuk kain berkisar  Rp300 ribu hingga Rp5 juta.

Kalau kalian ke Pulau Sabu dan Pulau Raijua, jangan hanya menikmati pemandangan alamnya yang eksotis saja,  sempatkan membeli kain tenun  langsung  dari para  pengrajin yang masih  mempertahankan dan melestarikan budaya tradisiona merekal. Selain itu kita juga bisa membantu perekonomian mereka dan semakin memperkenalkan Tenun Sabu ke dunia luar.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *