Sektor Wisata Ibu Kota Mulai Menggeliat dari Kelesuan

  • Bagikan
IIustrasi Pengunjung Resto

JAKARTA – Sektor wisata mulai bangkit dari kelesuan setelah pemerintah menjadikan status Ibu Kota turun ke level 3 Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Covid-19.

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta pun meresponnya dengan mengeluarkan surat edaran yang mengizinkan 309 pelaku usaha restoran, rumah makan, dan kafe, untuk membuka uahanya.

Sekarang, geliat sektor wisata di Ibu Kota mulai menunjukkan hasilnya. Suasana di beberapa sudut usaha wisata berbasis kuliner mulai ramai didatangi pengunjung.

Kedatangan pengunjung ini tentu menggemberikan, karena di sana berarti ada perputaran uang. Di sana pula berlangsung pembayaran pajak dan retribusi yang sangat bermanfaat bagi pendapatan daerah.

Banyak yang tertolong dengan kembali beroperasinya sektor wisata ini. Bukan sekadar retribusi dan pajak yang berkaitan dengan pendapatan daerah, namun juga kegiatan ekonomi lainnya yang menjadi mata rantainya.

Juru parkir amatir di tepi jalan juga mendapat pemasukan karena jumlah kendaraan yang diparkir meningkat. Pedagang asongan juga meningkat penjualannya, karena banyak manusia yang berlalu lalang membuat dagangannya terbeli.

Belum lagi sopir angkutan umum dan pengemudi ojek yang mulai mendapat penumpang lebih signifikan.

“Lumayan hari-hari belakangan ini jumlah penumpang naik Mas,” ujar salah seorang sopir angkutan kota yang beroperasi antara Pondok Gede, Bekasi ke PGC Cililitan.

Lain lagi cerita pemilik kedai ayam bakar dan goreng di kawasan Condet, Kramat Jati, Jakarta Timur ini. Setelah 1,5 tahun kedainya ditutup, karena pandemi Covid-19, sekarang mulai buka.

“Sekarang mulai dapat duit lagi. Karyawan juga mulai masuk kerja,” ujar salah seorang pengelola kedai ayam bakar goreng.

Juru parkir di kedai itu juga mengaku senang dengan dibukanya usaha ayam bakar goreng ini. Ia berharap tidak ada lagi penutupan tempat usaha, karena bikin susah banyak orang kecil.

BACA JUGA :  Museum Taman Prasasti, Belajar Sejarah dari Kedukaan

“Saya bener-bener susah kalau rumah makan ini tutup terus. Gak bisa dapat duit beli beras,” ujar seorang lelaki juru parkir.

Resto, rumah makan, dan kafe lainnya juga mulai menunjukkan tanda-tanda hidup. Banyak pengunjung, terutama anak-anak muda yang mengunjungi resto atau kafe sekadar untuk bertemu dengan teman-temannya.

Mereka tentu menjalankan protokol kesehatan ketat seperti ditetapkan pengelola usaha wisatanya.

“Makan minum di resto bersama teman buat menghilangkan jenuh di rumah melulu,” ujar Tami, perempuan pengunjung salah satu kafe di kawasan Kampung Tengah, Kramatjati, Jakarta Timur ini.

Benar yang dikatakan oleh mantan Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta, Harianto Badjoeri bahwa sektor wisata memang sektor yang paling cepat memutar roda ekonomi suatu negara atau kota.

Menurutnya, sektor wisata mudah dijalankan pelaku ekonomi mulai dari yang paling kecil sampai raksasa. Sektor ini paling mudah dan cepat memberi keuntungan kepada pelakunya.

“Bahasa guyonnya, cash keras atau hard cash,” kata Harianto yang sehari-hari aktif sebagai komisaris di salah satu BUMD DKI Jakarta ini. *

Reporter: Krista Riyanto

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *