Mencoba Tour Trekking di Sentul Yang Mulai Diminati Saat Masa Pandemi

  • Bagikan

Pesona alam dan wisata di kawasan Sentul Kabupaten Bogor selalu menarik wisatawan, mulai dari hutan pinus, air terjun, bumi perkemahan, pemandian air panas, offroad hingga motor trail. Kini Sentul memiliki wisata baru yang mulai menarik, yaitu wisata trekking atau hiking dan arung jeram.

Wisata alternatif luar ruangan ini sedang naik daun sejak wabah Covid-19 mewabah.

Dikutip dari tempo, Koordinator penyelenggara wisata dari Pesona Treking Sentul, Muhamad Syarifudin alias Arif mengatakan salah satu alasan wisatawan tertarik dengan wisata alam terbuka adalah karena selain memberikan pemandangan pesona alam yang luar biasa juga memberikan kesan edukatif terhadap alam. “Bahkan pada periode 2014 hingga 2019, wisata alam awalnya ditujukan untuk terapi bagi anak berkebutuhan khusus,” ujarnya, Rabu 25 November 2020.

Seiring berjalannya waktu, para orang tua yang biasa membawa anaknya untuk terapi di alam bebas membawa lebih banyak teman atau kolega untuk ikut serta berwisata.

Arif mengatakan istilah wisata trekking sudah ada sejak 2007. Namun, saat itu kegiatan wisata ini terkesan biasa saja karena layaknya warga desa, mereka hanya berjalan kaki ke persawahan, hutan atau air terjun.

Dia juga memiliki pemikiran yang sama. Sebab, aktivitas satu-satunya adalah berjalan kaki sambil membawa ransel dan tiang trekking. “Setelah saya amati dan tanyakan hal itu kepada guide yang kebetulan pemuda setempat, ternyata bisa dikembangkan dan bisa menarik wisatawan dengan manajemen yang baik dan terbuka untuk siapa saja,” tutur pria berlatar belakang travel agent ini.

Awalnya wisata ini masih kalah tenar dengan offroad, trail moto adventure dan lain sebagainya di kawasan Sentul. Penyedia layanan terapi trekking juga sudah vakum akibat pandemi tersebut.

BACA JUGA :  Turnamen Futsal Hydro Coco Cup, Co Branding Wonderful Indonesia

“Dalam kondisi itu, ada satu pelanggan yang saya tanyakan tentang trekking dan dia meminta saya untuk menjadi pemandu,” kata Arif.

Berawal dari komunikasi konsumen yang ia langgani untuk trip tersebut, Arif pun berkoordinasi dengan anak-anak muda yang selama ini menjadi pemandu penyedia jasa wisata therapy trekking dan mengajak mereka untuk bersinergi membangun dan mengelola wisata bersama. Sejak berdiri Juli lalu, wisata trekking yang dikelola Pesona Treking Sentul selalu ramai. “Alhamdulillah ternyata peminatnya banyak, bahkan sekarang selalu booking saja setiap hari. Kebanyakan rombongan atau keluarga,” ujarnya.

Bagi wisatawan yang ingin trekking di Sentul, ada sejumlah pilihan. Dari trekking terapeutik hingga trekking tingkat ekstrem. Untuk therapeutic trekking, kata Arif, pihaknya hanya dikhususkan untuk keluarga dengan rute terjauh 2,5 kilometer. Dengan jalur ini wisatawan bisa menjelajahi persawahan, perkebunan, dan body rafting.

Melalui wisata ini nilai edukatif alam lebih diutamakan agar anak-anak lebih mengenal alam. “Dulu ada klien, anaknya baru tahu nasi apa yang diawali. Selain itu, yang takut air dan bebatuan lambat laun akan pulih, ”kata Arif.

Kemudian untuk wisata trekking biasa tersedia tiga pilihan, mulai dari trek mudah, sedang dan ekstrim. Untuk level mudah, peserta akan berjalan kaki 2 hingga 4 kilometer dengan rute ilalang di lembah pegunungan, kebun pinus, perkebunan dan menyusuri sungai menuju air terjun. Untuk jalur perantara, peserta akan berjalan dari jarak 4 hingga 7 kilometer di rute yang sama dengan mudah tetapi menyusuri sungai lebih jauh dan menemukan tiga hingga empat air terjun.

Untuk yang ekstrim, menurut Arif, khusus untuk uji coba lari karena akan menempuh jarak hingga 22 kilometer. “Puncak air terjun dan goa sejarah Agung Garunggang karena terdapat mega karst yang terbentuk ribuan tahun lalu,” ujarnya.

BACA JUGA :  5 Curug di Sentul yang Banyak Diburu Para Petualang

Garis finish trekking biasanya dibuat di air terjun, sehingga wisatawan bisa sekaligus membersihkan diri. Waktu trekking rata-rata adalah 5 hingga 8 jam.

Bagi wisatawan yang ingin wisata trekking, Arif mengingatkan agar mempersiapkan diri. Peserta harus dalam keadaan sehat jasmani dan membawa peralatan yang diperlukan. Pihaknya sudah menyiapkan tiang trekking dan jas hujan.

Harga yang ditawarkan berkisar Rp. 200 ribu sampai dengan Rp. 400 ribu per trip tergantung jumlah peserta. Namun, harga tersebut sudah termasuk biaya masuk lokasi wisata dan parkir.

Demi keselamatan wisatawan, Arif mengatakan, pihaknya hanya melayani rombongan private atau keluarga. Setiap guide biasanya hanya membantu 3 sampai 5 orang. Pihaknya juga telah menerapkan protokol kesehatan untuk pengamanan bersama.

Arif mengatakan, manfaat wisata trekking dapat meningkatkan kekebalan tubuh, membakar kalori, meningkatkan kreativitas dan kerja tim, menurunkan berat badan dan lain-lain.

Seorang peserta trekking Adi Guntara mengatakan dia tertarik untuk mengikuti tur trekking karena menganggapnya sebagai tur yang sehat dan aman selama pandemi. Pasalnya, selama trekking, ia terus terpapar sinar matahari yang sangat bermanfaat untuk kekebalan tubuh.

Selama perjalanan, dia bisa menikmati pemandangan dan udara yang bagus. “Selain itu, kalau Covid terlihat seperti ini, banyak wisata lain yang tutup. Kalaupun kita membukanya ngeri kita ngeri, makanya kita pilih yang ini yang lebih aman dan sehat,” kata Adi.

Tempo.co
Editor : Rycko

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *