DestinasiHOMESumatera Barat

Mangrove Edupark Apar, Wisata Edukasi Konservasi Unggulan Sumbar

Kabartravel.id – Pariaman Mangrove Edupark atau Kawasan Edukasi Mangrove Pariaman yang telah dilengkapi dengan jalur trekking (penelusuran) yang berlokasi di Desa Apar, Kec. Pariama Utara, Kota Pariaman adalah upaya untuk menjaga dan melestarikan kawasan mangrove yang tinggal sedikit di Pariaman.

Di penghujung tahun 2018 , memanfaatkan dana CSR PT. Pertamina  Medan telah selesai pula pembangunan penambahan jalur trekking mangrove di kawasan Mangrove Edupark Apar. Jalur trekking kini sudah menyasar ke dalam kawasan hutan mangrove. CSR untuk penambahan jalur akan dianggarkan PT. Pertamina tiap tahun.

Dengan konsep pengembangan sebagai destinasi ekowisata berbasis edukasi konservasi diharapkan Mangrove Edupark Desa Apar kedepan menjadi objek wisata alam sekaligus wahana pendidikan bagi wisatawan, terutama tentang arti penting menjaga hutan mangrove dan habitat yang ada di dalamnya.

Berbagai sarana prasarana pendukung kawasan serta kegiatan wisata edukasi konservasi terus diintensifkan di kawasan ini oleh kelompok mitra konservasi Tabuik Diving Club (TDC), sebuah komunitas pehobi olahraga selam, pecinta alam bawah laut serta pegiat konservasi kawasan pesisir di Pariaman.

Sejak 2011, TDC bekerjasama dengan Green Tourism Institute, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak mendorong terwujudnya pariwisata hijau dan ramah lingkungan serta Sumatera and Beyond, sebuah operator wisata kesohor di Sumbar terus aktif melaksanakan paket wisata edukasi konservasi di Mangrove Edupark Apar.

Tiap tahun, sedikitnya ada tiga sampai empat rombongan paket wisata dibawa oleh tour operator Sumatera and Beyond melaksanakan paket wisata edukasi konservasi mangrove ke lokasi Mangrove Edupark Apar, disamping paket konservasi penyu dan terumbu karang. Mereka berwisata sambil ikut melestarikan hutan mangrove.

Para wisatawan peserta paket wisata dari luar Sumbar itu dikenalkan tentang seluk beluk mangrove, arti penting dan manfaat dari mangroe. Dan tak lupa juga di setiap kunjungannya, para tamu wisatawan diikutsertakan menanam bibit mangrove sebagai bentuk investasi mereka dalam menjaga keberlangsungan alam dan lingkungan.

Sejak 2011, sedikitnya 10.000 bibit mangrove telah ditanam oleh tamu wisatawan di kawasan Mangrove Edupark Apar. Kawasan yang dulu kritis dan gersang, kini telah hijau kembali ditumbuhi pohon-pohon mangrove. Habitat hewan yang dulu sempat hilang dari kawasan ini, kini sudah kembali dan sudah punya rumah tempat hidup.

BACA JUGA :  Kampung Warna-Warni Tigarihit Destinasi Wisata Unggulan Baru Danau Toba

Beragam jenis ikan, udang, kepiting, langkitang hitam yang dulu sempat hilang dari kawasan mangrove Apar, kini telah kembali dan bisa hidup dari hijaunya hutan mangrove (bakau). Begitu pula dengan habitat burung. Data terakhir tercatat 83 jenis burung yang kini hidup dan menumpangkan kehidupan dari kawasan mangrove ini.

Dari sisi konservasi dan upaya penyelamatan alam dan lingkungan, diakui apa yang dilakukan di kawasan Mangrove Edupark Apar selama ini belum mencapai hasil yang maksimal. Namun, kegiatan kecil yang dilandasi komitmen dan konsistensi yang dilaksanakan selama ini, minimal hasilnya bisa terlihat saat ini.

Meski tak punya kawasan mangrove yang luas seperti di daerah kabupaten/kota lain di Sumbar, minimal Pariaman sebagai sebuah kota pantai di pesisir barat Sumbar masih punya sedikit hutan mangrove di kawasan Mangrove Edupark Apar. Hutan mangrove yang akan memberi banyak manfaat bagi hidup dan kehidupan warga kota.

Kawasan mangrove bukanlah hutan atau semak belukar tak berguna. Kawasan mangrove punya arti penting bagi keberlangsungan dan keberlanjutan fungsi ekosistem pesisir. Kawasan mangrove punya banyak fungsi dan manfaat untuk menjaga keberlangsungan hidup dan kehidupan manusia maupun makhluk lainnya.

Sebagai fungsi mitigasi bencana, kawasan mangrove menjadi benteng hijau untuk melindungi daratan dari dampak abrasi dan terjangan gelombang laut, termasuk benteng peredam arus tsunami. Di banyak bencana tsunami, terbukti kawasan mangrove mampu melindungi kawasan daratan di belakangnya.

Banyak negara-negara pesisir yang rawan bencana gempa dan tsunami, kini berlomba-lomba mengembangkan dan memperluas kawasan mangrove di sepanjang pesisir negeri mereka. Berbagai kecanggihan alih teknologi dan kemajuan ilmu pengetahun diterapkan untuk mendukung pengembangan dan mempercepat rekonstruksi kawasan mangrove.

Kawasan mangrove nan hijau juga berfungsi sebagai paru-paru bagi kehidupan kota. Penyedia oksigen bagi keberlangsung hidup warga. Studi menyebutkan, sebatang pohon mangrove terbukti  mampu menghasilkan oksigen dua kali lipat jumlahnya dari sebatang pohon kebanyakan yang ada di daratan.

Hasil studi menyebutkan, sebatang pohon yang tumbuh rindang mampu menghasilkan sedikitnya 1,2 kilogram oksigen setiap hari. Sedangkan, satu orang manusia untuk bisa bernafas menyambung hidup butuh minimal 0,5 kilogram oksigen tiap hari. 1,2 kilogram oksigen yang dihasilkan sebatang pohon cuma cukup untuk dua orang.

BACA JUGA :  Kropokhan, Kuliner Demak Nyaris Hilang Tergerus Zaman

Pohon mangrove tumbuhan pesisir dengan segala kekhasan yang dimilikinya, ternyata mampu menghasilkan oksigen dua kali lipat jumlahnya dari jenis pohon lain. Yang artinya, oksigen yang dihasilkan dari sebatang pohon mangrove setidaknya bisa memberi kehidupan bagi empat orang manusia tiap harinya.

Itu sekelumit tentang fungsi dan manfaat kawasan mangrove bagi kehidupan manusia. Masih banyak fungsi dan manfaat lain dari keberadaan kawasan mangrove jika terlindungi, termasuk juga dampak dan manfaat kawasan mangrove bagi keberlangsungan kehidupan ekonomi nelayan dan masyarakat pesisir.

Belum lagi manfaat ekonomi kawasan mangrove dari sisi pengembangan pariwisata. Kawasan mangrove yang hijau lestari serta dikemas dengan baik berpedoman pada nilai keberlanjutan, diproyeksi akan menjadi sebuah potensi dan daya tarik bagi pengembangan kepariwisataan daerah. Banyak daerah yang bisa dijadikan rujukan.

Inilah cita-cita besar yang ingin diimplementasikan oleh para pegiat bersama masyarakat sekitar kawasan Mangrove Edupark Apar selama ini. Pegiat konsis di upaya penyelamatan  kawasan, masyarakat dan pemerintahan silahkan mengembangkan sebagai daya tarik wisata, yang tentunya wisata ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Sebagai kawasan ekowisata, Mengrove Edupark Apar terbukti telah mampu mencuri perhatian banyak wisatawan. Selain kunjungan wisatawan melalui paket-paket wisata yang dikelola para tour travel dan tour operator, kawasan ini saban hari dan tiap akhir pekan juga ramai dikunjungi wisatawan untuk sekedar berfoto atau berswafoto.

Jalur trekking yang ada di kawasan Mangrove Edupark Apar saat ini menjadi satu-satunya jalur trekking wisata mangrove yang ada di Sumbar. Dalam satu situs foto di medsos tentang objek wisata terpopuler di Sumbar tahun 2018, trekking mangrove Pariaman adalah salah satu objek wisata paling banyak ‘dikepoin’ oleh netizen.

Rasa penasaran ratusan bahkan ribuan netizen di dunia maya melihat foto trekking mangrove Pariaman di medsos tersebut dan adanya keinginan netizen menjajal jalur trekking, setidaknya menjadi catatan penting, bahwa objek wisata trekking mangrove Pariaman berpeluang besar dikembangkan sebagai destinasi wisata unggulan.

BACA JUGA :  Kopi Daong, Ngopi Asyik di Kaki Gunung Pangrango

Baru satu objek trekking mangrove dikembangkan, respon publik calon wisatawan sudah luar biasa. Kalau beberapa potensi lain kawasan Mangrove Edupark Apar dikembangkan lagi sebagai daya tarik, tentu semakin tinggi respon dan tingkat penasaran orang luar ingin berkunjung menikmati kawasan mangrove Pariaman.

Banyak lagi potensi lain dari kawasan Mangrove Edupark Apar yang layak dan potensial dikembangkan sebagai daya tarik wisata. Konsep daya tarik wisata bersifat kompetitif dan berbeda dengan daya tarik yang ada di daerah lain. Tinggal lagi kemauan dan keseriusan para pemangku kepentingan. Baik di pemerintahan maupun masyarakat.

Kawasan konservasi, termasuk kawasan mangrove penting dipetakan. Lalu dibuatkan dokumen zonasi (pembagian kawasan). Zonasi menjadi acuan mana kawasan yang boleh dimanfaatkan, mana kawasan yang tak boleh diganggu gugat dan benar-benar harus dilindungi dan mana pula kawasan yang bisa dikembangkan untuk keperluan lain.

Zonasi pemanfaatan kawasan konservasi bisa sebagai destinasi wisata. Salah satunya mungkin dengan konsep wisata edukasi konservasi atau konsep lainnya. Wisata dijadikan sebagai salah satu upaya untuk menjaga dan melestarikan fungsi utama dari kawasan konservasi dengan melibatkan peran wisatawan.

Banyak ragam aktivitas yang bisa dijadikan daya tarik dalam pengembangan pariwisata. Wisata sekarang bukan sekedar melihat dan menyaksikan tempat-tempat nan indah. Tapi trendnya telah jauh berkembang. Di sebagian orang, wisata sudah menjadi sarana guna menimba pengalaman hidup (life experintial tourism).

Banyak sisi kehidupan dan aktivitas sosial budaya dan kemasyarakatan yang potensial dikembangkan dan dikonsep sebagai daya tarik wisata minat khusus, terutama wisata pengalaman hidup. Apa yang biasa bagi kita, akan jadi luar biasa bagi tamu wisatawan. Salah satu pilihannya mungkin wisata edukasi konservasi alam dan lingkungan.

Kawasan Mangrove Edupark Apar yang punya ragam potensi alam, mulai dari pantai, hutan pinus, telaga, kawasan mangrove dengan segala habitat di dalamnya serta berpadu dengan potensi aktivitas sosial budaya masyarakat pesisir di sekitarnya, tentunya adalah modal besar yang layak dikembangkan sebagai daya tarik wisata daerah.

  • Oleh              : Tomi Tambijo
  • Editor            : Wisja

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close